Halaman

Minggu, 26 Desember 2010

Lepra (penyakit Hansen)

Armauer Hansen, orang Norwegia, menemukan basil penyebab lepra, yaitu Mycobacterium laprae, pada tahun 1873. Dan jika ada kemungkinan lepra masuk dalam perbincangan klinis tentang diagnosis bandingnya, gunakan selalu sebutan 'penyakit Hansen' untuk kelainan ini, sebab ada ketakutan yang sudah melekat terhadap lepra, bahkan pada daerah di mana penyakit tersebut tidak endemis. Lepra menyebar luas ke seluruh dunia, dengan sebagian besar kasus terdapat di daerah tropis dan subtropis, tetapi dengan adanya perpindahan penduduk maka penyakit ini bisa menyerang di mana saja. Lepra merupakan penyakit pada saraf perifer, tetapi bisa juga menyerang kulit dan kadang-kadang jaringan lain seperti mata, mukosa saluran respirasi bagian atas, tulang, dan testis.

Meskipun infeksius, tetapi derajat infektivitasnya rendah. Waktu inkubasinya panjang, mungkin beberapa tahun, dan tampaknya kebanyakan pasien mendapatkan infeksi sewaktu masa anak-anak. Insidensi yang rendah pada pasien-pasien yang merupakan pasangan suami-isteri (lepra yang diperoleh dari pasangannya) memberikan kesan bahwa orang dewasa relatif tidak mudah terkena. Penyakit ini timbul akibat kontak fisik yang erat dengan pasien yang terinfeksi, dan risiko ini menjadi jauh lebih besar bila terjadi kontak dengan kasus lepromatosa—sekret hidung merupakan sumber utama terjadinya infeksi di masyarakat. Pola klinis penyakit ini ditentukan oleh respons imunitas yang diperantarai sel (cell-mediated immunity) atau imunitas seluler (cellular immunity) host terhadap organisme. Bila respons imunitasnya baik, maka timbul lepra tuberkuloid, di mana kulit dan saraf-saraf perifer terkena. Lesi kulit berbentuk tunggal, atau hanya beberapa, dan berbatas tegas. Bentuknya berupa makula atau plak dengan hipopigmentasi pada kulit yang gelap. Terdapat anestesi pada lesi, hilangnya keringat, dan berkurangnya jumlah rambut. Penebalan cabang-cabang saraf kulit dapat diraba pada daerah lesi tersebut, dan saraf perifer yang besar jugs dapat diraba. Tes lepromin positif kuat. Gambaran histologis berupa granuloma tuberkuloid yang jelas, dan tidak ditemukan adanya basil pada pewarnaan Ziehl-Nielsen yang dimodifikasi.

Bila respons imunitas selulernya rendah, maka multiplikasi kuman menjadi tak terkendali dan timbul bentuk lepra lepromatosa. Kuman menyebar tidak hanya pada kulit, tetapi jugs mukosa saluran respirasi, mata, testis, dan tulang. Lesi kulit berbentuk multipel dan nodular. Tes lepromin negatif. Pada pemeriksaan histologi berupa granuloma yang difus pada dermis, dan ditemukan basil dalam jumlah yang banyak.

Di antara kedua bentuk lepra yang ekstrem tadi, terdapat spektrum penyakit ini yang disebut dengan lepra borderline, di mana gambaran klinis dan histologisnya menggambarkan berbagai derajat respons imunitas seluler terhadap kuman. Tidak ada tes diagnostik lepra yang absolut—diagnosis berdasarkan pada gambaran klinis dan histologis.

Lepra tuberkuloid biasa diobati dengan kombinasi dapson dan rifampisin selama 6 bulan; sementara lepra lepromatosa dapat diobati dengan dapson, rifampisin, dan klofazimin paling tidak selama 24 bulan. Pengobatan lepra mungkin dipersulit dengan adanya 'reaksi kusta' yang dipengaruhi oleh imunitas, dan harus diamati oleh seseorang yang berpengalaman dalam hal penanganan lepra.

Pustaka
Dermatologi Ed. 8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar